Pada pertemuan ASEAN Cosmetic Testing Laboratories Committee (ACTLC) ke-21 yang berlangsung secara luring di Singapura pada 21 November 2023, Indonesia meraih pencapaian penting. Metode analisis yang dikembangkan Indonesia, yaitu “Determination of 1,4-Dioxane in Cosmetic Products by Gas Chromatography Mass Spectrometry Head Space Sampler (GC-MS/HSS)”, secara resmi ditetapkan sebagai ASEAN Cosmetic Method (ACM-011). Penetapan ACM baru ini disambut dengan apresiasi tinggi dari seluruh negara anggota ASEAN yang hadir, termasuk Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Bahkan, perwakilan dari Singapura dan Thailand mengusulkan agar metode analisis Indonesia ini dapat diharmonisasi lebih lanjut menjadi standar internasional ISO, sebuah usulan yang didukung penuh oleh seluruh anggota ACTLC.
Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh PPPOMN, menyambut baik usulan harmonisasi ini dan bersiap menghadapi tantangan untuk menjadikan metode analisis tersebut sebagai metode internasional ISO. Bersama dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai anggota ISO/TC 217 Cosmetics, Jejaring Laboratorium Kosmetik Indonesia (JLKI), Komtek 71-07 Kosmetik, dan para ahli di bidang terkait, Indonesia saat ini sedang menyusun proposal kerja baru (new work proposal) serta materi presentasi mengenai metode analisis “Penentuan Kadar 1,4 Dioksan dalam Kosmetik”. Materi ini rencananya akan dipaparkan pada kegiatan ISO/TC 217 WG 3 meeting pada 28 Maret 2024, sebagai langkah awal dalam proses pengembangan standar internasional ISO. Untuk presentasi tersebut, Indonesia telah mengusulkan Prof. apt. Abdul Rohman, PhD., M.Si. sebagai pemimpin proyek dan pakar.
Sebagai bagian dari persiapan ini, PPPOMN mengadakan pertemuan finalisasi bahan sidang di Bekasi pada Kamis, 29 Februari 2024. Pertemuan tersebut mengundang dua pakar eksternal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yaitu Prof. Dr. apt. Abdul Rohman, M.Si. dan Dr. Apt. Agustina Ari Murti Budi Hastuti, S.Farm., M.Sc., serta Agus Purnawarman, STP., ME. dari BSN, perwakilan Komtek 71-07 Kosmetik, dan JLKI. Kehadiran para ahli dan anggota Komtek, termasuk Prof. Dr. Apt. Hayun, M.Si. sebagai ketua Komtek, sangat penting untuk membahas finalisasi materi presentasi, outline standar, dan formulir NWIP. Dalam upaya pengembangan standar internasional ini, sangat diperlukan komitmen bersama yang kuat antara BSN, anggota Komtek 71-07 Kosmetik, dan para ahli ISO/TC 217 WG 3, mengingat proses ini memerlukan waktu dan upaya yang besar demi membawa nama baik Indonesia.
Selain fokus pada metode 1,4-Dioksan, PPPOMN juga menggarap proses dua metode analisis lainnya untuk menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI). Kedua metode tersebut adalah (1) Identifikasi dan Penetapan Kadar Dietilen Glikol (DEG) dan Etilen Glikol (EG) dalam Kosmetik, serta (2) Penghitungan dan deteksi bakteri aerobik mesofilik, yang mengadopsi ISO 21149:2017. Kedua metode ini kini berada dalam tahap penyusunan Rancangan SNI, yang juga dibahas dalam pertemuan tersebut. Berbagai masukan konstruktif telah diterima untuk penyempurnaan Rancangan SNI, yang akan ditindaklanjuti pada pertemuan berikutnya. Agar SNI yang ditetapkan nantinya dapat sesuai dengan target waktu dan diterapkan dengan baik oleh seluruh pemangku kepentingan, kolaborasi dan komitmen bersama antara BSN dan anggota Komtek 71-07 dalam perumusan SNI menjadi sangat krusial.
sumber gambar: https://png.pngtree.com/background/20230426/original/pngtree-makeup-cosmetic-products-on-white-surface-picture-image_2487143.jpg

Leave feedback about this